Sosok Emha Ainun Nadjib - Cak Nun - Mbah Nun




Ribuan pasang mata tertuju pada sosok baju putih dengan peci khas maiyah yang berwarna putih kombinasi merah di bagian atas. Iya beliau adalah idola saya, teman-teman Maiyah dulu memanggil Cak Nun, namun karena beliau semakin sepuh, teman-teman memanggil Mbah Nun. Sepuh namun fisik masih sangat prima, semangat jiwa muda untuk selalu keliling di berbagai kota menemani masyarakat kecil, membesarkan hati orang yang merasa kecil bahkan hampir setiap malam.

Seorang Muhammad Ai(nun) Nadjib memang manusia berlian. Hati beliau bening, mengkristal indah, dan bisa memancarkan cahaya kasih sayang. Meski luar biasa “mahal”, seorang Cak Nun tidak risih bercengkrama dengan rakyat jelata, bahkan mau memeluk orang gila. Meski diakui kadar intelektualitasnya oleh profesor-profesor dari negara maju di Eropa Barat, Cak Nun mau mendidik orang-orang di perdesaan yang mungkin kebanyakan hanya tamatan wajib belajar 9 tahun. Bercengkrama semalam suntuk. Mendengarkan keluh kesah. Membesarkan hati orang selama 20 tahun keliling Indonesia tanpa henti. Sudah “jalan kaki” ke lebih dari 1.300 desa di 28 provinsi.
Cak nun tidak mengenal gensi seperti kebanyakan diri kita. Meski sering keliling dunia di empat benua, bertemu petinggi-petinggi negara dan pemuka agama, beliau mau berteman akrab dengan kuli-kuli gendong di pasar. Meski sahabat seorang raja ( Sultan HB X ), beliau tetap kumpul-kumpul cekakan dengan para preman dan para tukang becak

Cak Nun itu tipe orang yang kalo kita lihat adem dan ga pingin bermusuhan dengan siapapun, sementara dai atau ustad yang laku dijual diindustri adalah dai yang menyebabkan kita merasa paling bener dan bermusuhan, menjadi musuh di pihak lain, itu tidak ada di wajah Cak Nun. Ada banyak orang menyebutnya kiainya kiai ada beberapa orang juga menyebutnya wali karena dakwahnya mirip seperti Sunan Kalijaga dan karena memang pengetahuannya yang sangat luas dibidang apapun, kalo menurut saya orang yg setara dengan Gus Dur dari segi ilmu agama, pengetahuan umum serta makrifat adalah Cak Nun. Cak Nun, dalam setiap ceramahnya selalu mendengung-dengungkan persatuan NU dan Muhammadiyah, dengan guyonan khasnya ingin membuat Nadlatul Muhammadiyah yaitu gabungan NU dan Muhammadiyah

Cak Nun, Beralian moderat yang tidak condong kepada organisasi apapun, beliau dekat dengan smua golongan islam bahkan dengan non muslim karena sifat keterbukannya dan kearifannya terhadap semua golongan, beliau tidak fanatik mahzab. 

Cak Nun, dakwah melalui musik yang oleh sebagian kalangan diharamkan, untuk menilainya sebaiknya memakai cara pandang Nabi Khidir bukan cara pandang Nabi Musa, bagi Nabi Musa membunuh adalah haram, tapi khidir boleh membunuh karena dikaruniai ilmu tertentu yang bisa mengetahui masa depan dan makrifatullah arti dari sebuah pembunuhan yangg dilakukannya yangg tidak diketahui oleh Musa, dan bagi Sunni memang banyak ulama yg memperbolehkan musik dengan batasan-batasan tertentu.

Cak Nun, sejauh dari pengamatan saya terhadap ceramah-ceramahnya menggunakan gaya guyon/bercanda serta gaul, beliau tidak mau memakai pakaian ala ustad seperti ustad di setiap ceramahnya, paling hanya memakai setelan hem/kaos dengan peci khas maiyah karena Cak Nun tidak ingin dianggap Kiai/Ustad, beliau hanya pingin dianggap orang biasa yang hanya bersaudara dengan masyarakat kecil, bahkan beliau tidak pernah menganggap komunitas ceramahnya adalah pengajian dan guru, tetapi hanyalah forum umat islam yang disitu berusaha memecahkan masalah yg terjadi pada umat.

Di forum maiyah, maiyah bukan golongan  dengan ideology dengan padatan-padatan tertentu, kita disini untuk belajar bersama-sama. Ilmu maiyah adala meruhanikan segala materi atau dengan kata lain menemukan sambungan dari setiap apa saja dengan Allah. Berbagai bentuk pola yang belum saya temukan, saya temukan di maiyah. Maiyah itu tempat namun dia tidak padat melainkan cair, kecairannya inilah yang mampu membuat maiyah menampung berbagai karakter masyarakat. Ada yang alim, kurang alim, yang bisa baca quran, yang ga bisa baca quran, pake baju koko, pake kaos oblong, pake celana pendek, sarungan, yang islam, yang Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, gatoloco, bahkan yang tidak beragamapun diterima di maiyah karena yang terpenting bukan siapa kamu tapi bagaimana akhlak kelakuanmu. Maiyah menyuguhkan hidangan yang enak yang didalamnya penuh kemesraan.

Walau bersama ngangsu kawruh bersama Cak Nun atau Mbah Nun, didalam maiyah tidak ada kata fans, mania, fanatic, loversm fans club atau sebagainya. Hubungan yang terjadi bagaikan ayah dan anak yang selalu memberi pitutur demi kebaikan sang anak, atau hubungan kakek dengan cucunya dimana sang kakek senantiasa memberikan cerita dan pengetahuan masa lampau agar sang cucu tau siapa dirinya dan siap melesat ke masa depan. 


Biografi

Muhammad Ainun Nadjib atau yang biasa di kenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Ayahnya, Almarhum MA Lathif, adalah seorang petani. Dia mengenyam pendidikan SD di Jombang (1965) dan SMP Muhammadiyah di Yogyakarta (1968). Sempat masuk Pondok Modern Gontor Ponorogo tapi kemudian dikeluarkan karena melakukan demo melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya. Kemudian pindah ke SMA Muhammadiyah I, Yogyakarta sampai tamat. Lalu sempat melanjut ke Fakultas Ekonomi UGM, tapi tidak tamat. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Lima tahun hidup menggelandang di Malioboro, Yogyakarta antara 1970-1975 ketika belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat mempengaruhi perjalanan Emha. Selain itu ia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Dalam kesehariannya, Emha terjun langsung di masyarakat dan melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensialitas rakyat. Di samping aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang mBulan, ia juga berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, rata-rata 10-15 kali per bulan bersama Musik Kiai Kanjeng, dan rata-rata 40-50 acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Selain itu ia juga menyelenggarakan acara Kenduri Cinta sejak tahun 1990-an yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki. Kenduri Cinta adalah forum silaturahmi budaya dan kemanusiaan yang dikemas sangat terbuka, nonpartisan, ringan dan dibalut dalam gelar kesenian lintas gender. Dalam pertemuan-pertemuan sosial itu ia melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.
  





Bersama Grup Musik Kiai Kanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padangmbulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.



Dalam berbagai forum komunitas Masyarakat Padangmbulan di Jombang, pembicaraan mengenai pluralisme sering muncul. Berkali-kali Cak Nun yang menolak dipanggil kiai itu meluruskan pemahaman mengenai konsep yang ia sebut sebagai manajemen keberagaman itu. Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. 


Karirnya diawali sebagai Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970). Kemudian menjadi Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976), sebelum menjadi pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta), dan grup musik Kyai Kanjeng hingga kini. Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media.

Ia juga mengikuti berbagai festival dan lokakarya puisi dan teater. Di antaranya mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).

Cak Nun memacu kehidupan multi-kesenian di Yogya bersama Halimd HD, networker kesenian melalui Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti dan mengasilkan beberapa reportoar serta pementasan drama. Di antaranya: Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan 'Raja' Soeharto); Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan); Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern); Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).

Selain itu, bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri Khidhir (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun). Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar); dan Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993).

Juga mementaskan Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping Sidang Para Setan, Pak Kanjeng, Duta Dari Masa Depan. Dia juga termasuk kreatif dalam menulis puisi. Terbukti, dia telah menerbitkan 16 buku puisi: “M” Frustasi (1976); Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978); Sajak-Sajak Cinta (1978); Nyanyian Gelandangan (1982); 99 Untuk Tuhanku (1983); Suluk Pesisiran (1989); Lautan Jilbab (1989); Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990); Cahaya Maha Cahaya (1991); Sesobek Buku Harian Indonesia (1993); Abacadabra (1994); dan Syair Amaul Husna (1994)

Selain itu, juga telah menerbitkan 30-an buku esai, di antaranya: Dari Pojok Sejarah (1985); Sastra Yang Membebaskan (1985); Secangkir Kopi Jon Pakir (1990); Markesot Bertutur (1993); Markesot Bertutur Lagi (1994); Opini Plesetan (1996); Gerakan Punakawan (1994); Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996); Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994); Slilit Sang Kiai (1991); Sudrun Gugat (1994); Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995); Bola- Bola Kultural (1996); Budaya Tanding (1995); Titik Nadir Demokrasi (1995); Tuhanpun Berpuasa (1996); Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997); Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997);

Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997); 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998); Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998); Kiai Kocar Kacir (1998); Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998); Keranjang Sampah (1998); Ikrar Husnul Khatimah (1999); Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000); Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000); Menelusuri Titik Keimanan (2001); Hikmah Puasa 1 & 2 (2001); Segitiga Cinta (2001); “Kitab Ketentraman” (2001); “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001); “Tahajjud Cinta” (2003); “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003); Folklore Madura (2005); Puasa ya Puasa (2005); Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara); Kafir Liberal (2006); dan, Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006).

Tulisan ini sama sekali bukan untuk me-monumen-kan Muhammad Ainun Nadjib, karena haram hukumnya mabuk pada seseorang. Saya menulis tentang Cak Nun, harapan saya adalah untuk dijadikan uswatun hasanah. Jika kita menjadikan “Cak Nun” sebagai kata kerja yang cair dan dinamis, bukannya sebagai kata benda yang padat dan statis, maka beliau akan bernasib sama dengan Bung Karno dan Gus Dur kelak. Tidak ada manusia yang hidup abadi, tapi dengan suatu mekanisme cinta, beliau akan bisa tetap selalu hidup di hati kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dialog-dialog Afika